Sat 17 Sep 2005
Optimis, memandang segala sesuatu mungkin untuk dilakukan, sesulit apapun itu. Sebuah kesimpulanku sendiri yang muncul setelah ada perbincangan lucu di milis TE UGM angkatan 2000.
Ah, jadi ingat definisi orang gila yang sering diungkapkan ayahku.
Orang gila itu, orang yang setiap hari terus menerus melakukan segalanya dengan cara yang sama, namun mengharapkan hasil yang berbeda.
Sadar atau tidak, mungkin kita pernah terjebak dalam kegilaan semacam itu. Mengerjakan sesuatu dengan cara yang sama terus menerus, namun mengharapkan hasil yang berbeda. Untuk tersadar dan keluar dari kegilaan, menurutku langkah utamanya adalah menjadi optimis. Mengapa? Karena kita perlu mengambil langkah yang berbeda, yang mungkin memiliki resiko tinggi, yang mungkin belum pernah kita lakukan sebelumnya. Di situlah optimisme diperlukan. Menghadapi resiko. Menjalani apapun itu, mungkin kelihatannya sulit, namun belum tentu yang awalnya sulit itu lebih buruk.
Ketika seseorang belum pernah mengetik, mungkin mengetik adalah sebuah hal yang sulit dibandingkan menulis dengan ballpoint seperti yang sudah sekian lama dilakukan. Namun setelah terbiasa, mengetik bisa jadi jauh lebih cepat ketimbang menulis dengan ballpoint. Itu salah satu contoh tentang awal yang sulit untuk hasil yang lebih baik. Hmm, jadi ingat, saya belum belajar mengetik dengan sepuluh jari dengan baik dan benar. Anyway, jadilah optimis, tidak ada ruginya sama sekali untuk dicoba.